"Kak, apa Ayah dan Ibu akan pulang?"
Pertanyaan itu selalu menjadi belati yang menusuk dadaku setiap kali hujan turun. Namaku Alya. Sejak usia sepuluh tahun, aku bukan lagi seorang anak yang bisa bermimpi tentang masa depan. Aku hanyalah seorang gadis yang terpaksa menelan pil pahit kehidupan, berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya, membawa adik kecilku, Bima, sebagai satu-satunya jangkar di tengah badai.
Ditinggalkan orang tua untuk merantau, diperlakukan layaknya beban di rumah kerabat sendiri, hingga harus menghadapi getirnya perceraian orang tua dan duka yang beruntun duniaku runtuh berkali-kali. Belum lagi drama sekolah, pembullyan yang mematikan rasa percaya diriku, serta perjodohan paksa yang mengancam kebebasanku.
Di bawah langit yang sering kali menangis, aku ditempa. Fisikku mungkin terlihat rapuh, namun mental dan jiwaku telah membeku menjadi baja. Meski di dalam hatiku masih ada lubang besar sebuah kekosongan bernama trauma aku telah memutuskan untuk berhenti berlari.
Ini bukan sekadar kisah tentang penderitaan. Ini adalah perjalanan panjang seorang gadis yang menjemput takdirnya sendiri di tengah dunia yang tidak pernah memihak.
Apakah masa lalu akan terus membayangi, atau mampukah aku menemukan fajar di balik tirai hujan yang tak kunjung berhenti ini?
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang