Pilihan

Pilihan

  • WpView
    Reads 1
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jun 28, 2026
Sinopsis Sejak kecil, Dila hidup dalam keluarga yang masih memegang teguh tradisi perjodohan. Memasuki usia remaja, ibunya selalu mengingatkan agar ia menjaga jarak dari laki-laki karena suatu hari ia akan menikah dengan pria yang telah dipilih keluarga. Ketika memasuki bangku SMA, Dila dikejutkan oleh kenyataan bahwa sekolah barunya ternyata juga menjadi tempat bersekolah Dimas, laki-laki yang telah dijodohkan dengannya sejak lama. Meski namanya sudah sering ia dengar, Dila belum pernah bertemu langsung dengan Dimas. Bahkan, setiap kali ibunya membahas tentang laki-laki itu, Dila selalu berusaha menghindar. Bagi Dila, perjodohan adalah sesuatu yang mengekang impian dan kebebasannya. Namun, di tengah keterbatasan pilihan, ia hanya bisa menjalani hari-harinya sambil berharap tak pernah bertemu dengan Dimas. Sayangnya, takdir seolah memiliki rencana lain. Pertemuan demi pertemuan yang tak terduga membuat Dila perlahan mengenal sosok Dimas lebih dekat. Di saat perasaannya mulai berubah, berbagai konflik muncul, mulai dari rahasia keluarga, kehadiran orang ketiga, hingga pilihan sulit antara mengikuti tradisi atau memperjuangkan kebahagiaannya sendiri. Akankah Dila menerima takdir yang telah ditentukan sejak kecil, atau memilih jalan hidupnya sendiri?.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Chasing Sanara
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • The Last Yes!
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Almost Married (END)
  • The Villain's Mother
  • Nala dan Mas Juragan
  • De Andere Weg (END)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée

Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines