"Kita menikah karena terpaksa. Jadi, jangan pernah campuri urusan gue, dan gue nggak akan peduli soal lo."
Gerald Arkananta Zavier tidak pernah meminta kehadiran perempuan lain di hidupnya. Baginya, perjodohan konyol yang diatur keluarganya hanyalah sebuah transaksi formalitas. Dia tetaplah Arka-cowok dingin, kaku, dan acuh tak acuh yang membangun dinding tebal di sekelilingnya.
Di sisi lain, Gissela Tamara Blansky bukanlah cewek lemah yang akan memohon perhatian. Punya harga diri setinggi langit dan gengsi sialan yang mendarah daging, Tamara menyambut dinginnya Arka dengan tembok yang sama tingginya. Dia jual mahal. Baginya, menyerah pada pesona Arka sama saja dengan menjatuhkan harga dirinya sendiri.
Sebuah perjanjian di atas kertas disepakati: Bahu-membahu di depan orang tua, asing di balik pintu rumah.
Namun, takdir punya cara lucu untuk meruntuhkan ego. Sifat cool Arka perlahan terkikis oleh perhatian-perhatian kecil yang tak disengaja-segelas susu hangat saat hujan, atau tatapan protektif yang menyiratkan kecemburuan yang coba ia sangkal. Sementara Tamara, sekeras apa pun dia mencoba menepis, detak jantungnya mulai berkhianat setiap kali Arka berada terlalu dekat.
Saat orang-orang dari masa lalu mulai datang mengusik, benteng pertahanan yang mereka bangun mati-matian mulai retak. Siapa yang akan kalah oleh egonya sendiri? Dan sampai kapan mereka bisa berpura-pura saling asing, jika setiap detik yang berlalu justru mengikis jarak di antara mereka?
Ini bukan tentang siapa yang jatuh cinta duluan, tapi tentang siapa yang paling lama bertahan dalam perang gengsi.
All Rights Reserved