If Love Was Enough
Narasi ini kutulis untuk mengabadikannya yang pernah membuat duniaku luruh. Tentang bagaimana rasa ini bisa tumbuh begitu manis, merayap pelan di tengah dinginnya malam, dan menghapus sisa-sisa sesak yang sempat menguji kewarasanku.
Aku masih ingat betul bagaimana cara tawanya menyelamatkan hariku yang melelahkan. Bagaimana suaranya yang tenang selalu berhasil menjadi tempat perlindungan paling nyaman ketika dunia luar terasa terlalu bising menuntut. Di balik segala pecahan dan luka yang ia tinggalkan belakangan ini, aku tidak bisa, dan tidak akan pernah bisa menghapus fakta bahwa ia pernah menjadi definisi paling indah dari rumah.
Kemanisannya bukan tentang hal-hal besar yang megah. Ia hidup dalam hal-hal kecil yang mengalir tanpa paksaan, cara matanya menyipit saat tersenyum tulus, kebiasaannya mendengarkan setiap keluh kesahku tanpa memotong, hingga rasa aman yang tiba-tiba meruap hanya dengan keberadaannya di sisi. Sesuatu yang begitu hangat, begitu tulus, yang membuatku rela menyerahkan seluruh pertahanan diri tanpa berpikir dua kali.
Dan mungkin itu alasan kenapa lubang di dadaku terasa begitu menganga sekarang. Karena saat manis itu direnggut paksa, yang tertinggal bukan hanya sunyi, melainkan kecanduan yang menolak sembuh.