Logika, Cinta Yang Tidak Seimbang

Logika, Cinta Yang Tidak Seimbang

  • WpView
    Reads 14
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jul 2, 2026
Aksara Senja selalu hidup dengan satu aturan: "Jangan melibatkan perasaan dalam keputusan penting". Sebagai anak sulung dari keluarga yang retak, ia terbiasa menjadi tempat pulang bagi semua orang. Kuat. Mandiri. Rasional. Hingga banyak orang mengira ia tidak memiliki celah untuk terluka. Sampai Samudra Jingga muncul kembali dalam hidupnya. Laki-laki yang tidak pernah ia sapa saat SMA itu perlahan masuk ke dalam rutinitas yang selama ini ia jaga rapat. Terlalu hangat. Terlalu sabar. Terlalu sulit untuk diabaikan. Namun semakin dekat mereka, semakin Aksara sadar bahwa ada satu hal yang tidak bisa dikalahkan oleh logika. Perasaan. Dan ketika akhirnya ia berani mengakui apa yang ada di hatinya, mungkin semuanya sudah terlambat. "Aku tidak pernah meminta kamu memilihku. Aku hanya lelah selalu menjadi pilihan yang kamu tunda." Sebuah kisah tentang anak sulung yang terbiasa menanggung segalanya sendirian, dan seorang laki-laki yang mengajarkannya bahwa menjadi kuat tidak berarti harus selalu sendiri.
All Rights Reserved
#119
slowburnromance
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • The Last Yes!
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Almost Married (END)
  • Chasing Sanara
  • De Andere Weg (END)
  • Nala dan Mas Juragan
  • The Villain Mother

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines