Secangkir Kopi Jam 7 Pagi

Secangkir Kopi Jam 7 Pagi

  • WpView
    Reads 17
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadMatureComplete Sat, Jun 6, 2026
Bagi Aruna, hidup adalah tentang keteraturan. Sebagai seorang arsitek lanskap yang kaku, dunianya bergerak dalam ritme yang presisi. Salah satu ritual yang tidak boleh diganggu gugat adalah memesan secangkir Americano hangat di kafe sudut jalan tepat pada pukul 07.00 pagi. Kebiasaan ini adalah jangkarnya sebelum menghadapi tekanan dunia kerja. Namun, keteraturan itu hancur berantakan saat barista baru bernama Elian datang. Elian adalah definisi dari spontanitas, ceroboh, penuh tawa, dan selalu menyajikan kopi dengan coretan pesan penyemangat di cup-nya. Alih-alih mendapatkan ketenangan, Aruna justru selalu disuguhi kejutan yang menguji kesabarannya setiap pagi. Dimulai dari keterpaksaan, rutinitas pagi Aruna perlahan bergeser. Dia tidak lagi merindukan kafeinnya, melainkan senyuman usil cowok di balik mesin espresso itu. Ketika rahasia masa lalu Elian perlahan terungkap lewat aroma biji kopi yang mereka hirup bersama, Aruna sadar: Elian bukan sekadar gangguan dalam jadwalnya. Elian adalah kebiasaan baru yang tidak ingin ia hilangkan. Apakah cinta bisa tumbuh dari sebuah rutinitas yang monoton? Atau justru kebiasaan lama yang akan memisahkan mereka?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • The Last Yes!
  • Almost Married (END)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Chasing Sanara
  • The Villain Mother
  • De Andere Weg (END)
  • SASMITA CANDALA (21+)

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines