Kami mengadopsi anak kami sendiri

Kami mengadopsi anak kami sendiri

  • WpView
    Reads 3,873
  • WpVote
    Votes 704
  • WpPart
    Parts 24
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published about 8 hours ago
5 tahun lalu, sebuah keluarga kehilangan putra mereka yang baru saja dilahirkan akibat penculikan. Sejak saat itu, sang ibu hidup dalam kesedihan yang tak pernah benar-benar hilang. Melihat istrinya terus terpuruk, sang suami akhirnya mengambil keputusan besar, mengadopsi seorang anak laki-laki untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan putra mereka. Namun, tanpa mereka sadari, anak yang mereka adopsi ternyata adalah putra kandung mereka sendiri yang hilang bertahun-tahun lalu. Ketika kehidupan mereka perlahan mulai kembali normal, sebuah kejutan tak terduga mengguncang segalanya. Seseorang datang membawa seorang anak dan mengaku bahwa anak itulah putra mereka yang selama ini hilang. Kini, keluarga itu berada di persimpangan yang membingungkan. Akankah mereka menyadari bahwa anak yang telah mereka adopsi adalah darah daging mereka sendiri? Ataukah mereka justru akan percaya bahwa anak yang baru datang itulah putra yang telah lama mereka nantikan kepulangannya? Penasaran? Yuk baca.
All Rights Reserved
#35
boy
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Life For Rei
  • Dari Bungsu Ke Sulung - End
  • Yang Terbuang (End)
  • Transmigrasi Galaksi Lavendra
  • move
  • Overprotected! [End]
  • Yohan  [ END ]
  • what is family? Membenci Atau Dibenci.
  • Elvano
  • RAFFAELLO TRANSMIGRASI
  • Keluarga Harchie
  • Alvaro
  • Narendra Arkasara
  • MENDADAK SULTAN
  • (ORIGINAL)Akulah Si Sulung Itu
  • TRANSMIGRASI ARGA
  • leonel arka lewis
  • Thanatos' Gift
  • PIPER [OG]
  • About him, Nathaniel.

"Mama... Papa... Rei janji bakal sembuh. Tapi jemput Rei, ya?" Kalimat itu sudah seperti mantra yang diucapkan bibir pucat Rei Elvianno selama sepuluh tahun terakhir. Di sana, ia melihat anak-anak lain pulang dengan tawa lebar, menggandeng tangan orang tua mereka setelah dinyatakan sembuh. Sementara Rei? Ia hanya ditemani bau karbol yang tajam dan selang infus yang menusuk kulit pucatnya. Keluarga Elvianno menganggapnya "barang cacat". Rei tersenyum pahit. Ia tahu. Ia bukan anak kecil bodoh lagi. Ia tahu ia telah dibuang. Namun, di sudut hatinya yang paling dalam, setitik harapan tetap ia pelihara. Ia ingin menunjukkan bahwa ia bisa sembuh. Ia ingin berguna. Tahun demi tahun berlalu. Penyakit Leukemia Mielomonosit Juvenil itu akhirnya mencapai titik jenuh. Tubuh Rei semakin ringkih, seolah tulang-tulangnya hanya dilapisi selembar kertas tipis. Malam itu, hujan turun dengan lebatnya. Rei menatap pintu kamar yang tertutup rapat, masih berharap pintu itu terbuka dan menampakkan sosok Mama atau Papa-nya. Sekali saja. Tes. Setetes air mata jatuh sebelum pandangannya mengabur. Dada Rei sesak, oksigen seolah enggan masuk ke paru-parunya. Tit.. tit.. tit............ Bunyi nyaring dari monitor EKG membelah kesunyian malam. Garis di layar itu mendatar, menghilangkan irama kehidupan yang selama ini bertahan dengan paksa. Cring..!! Rei mengerjap. Langit-langit di atasnya bukan lagi beton kusam Rumah Sakit Cinta Kasih yang retak di sana-sini. Langit-langit ini putih bersih, dengan pencahayaan hangat yang lembut di mata. Di sana, di samping ranjangnya yang empuk, seorang pria dewasa sedang terduduk di kursi kayu dengan kepala yang tertunduk lesu di atas lipatan tangannya di pinggir kasur. "Rei? Kamu... kamu sudah sadar, Sayang?" "Om... siapa?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines