"Enggak bisa, Ian!" Justin akhirnya meledak, melangkah mendekat dengan mata memerah menahan tangis. "Lo mau dia collapse lagi di atas panggung, di depan ribuan orang, dan mungkin kali ini enggak ketolong lagi?!"
"Gue enggak mau itu terjadi juga, Bang!" Ian membalas, air matanya akhirnya jatuh. "Tapi kalo kita larang dia sekarang, itu cuma bisa jadi hal yang paling dia sesali sepanjang sisa waktu yang dia punya!"
"NYAWA DIA LEBIH PENTING DARIPADA PENYESALAN! LO GILA, YA?!"
"GUE TAU ITU, BANG! GUE TAU BANGET!" Ian berteriak balik, suaranya pecah sepenuhnya. "Tapi ini juga soal gimana dia mau ngabisin waktu yang tersisa itu dan dia udah milih, Bang. Dari awal dia udah milih!"
........
"Aku akan terus menyanyi dan menari, sampai Tuhan yang menyuruhku berhenti."
Rupanya, setiap kata punya nyawa. Theo seolah mengundang sendiri takdir tragis itu terjadi. Bagaimana jika langit terketuk dan mendengar jeritannya? Bagaimana malaikat yang tengah lewat mengaminkan dan menyampaikan kepada Sang Pemilik Alam Semesta? Bukankah ia harus memperjuangkan untuk tak ingkar?
Disclaimer⚠️
Cerita ini murni sebagai cerita fiksi, jika ada kesamaan nama, gelar, kisah, mungkin hanya ketidaksengajaan.
Happy reading❤️
All Rights Reserved