Framing the Fog (ChioPalmie AU)

Framing the Fog (ChioPalmie AU)

  • WpView
    Reads 953
  • WpVote
    Votes 193
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jun 23, 2026
​Masagus Altair Damarlangit punya rencana sederhana: merestorasi villa tua dan perkebunan teh keluarganya di Pagaralam menjadi boutique hotel yang estetik. Sebagai fotografer bangunan yang perfeksionis, ia terbiasa mengendalikan segala sesuatu di depan lensa-termasuk memanipulasi keadaan agar rencananya berjalan mulus. ​Namun, rencananya berantakan saat lensa kameranya tanpa sengaja menangkap sosok perempuan di tengah kabut Dempo. ​Sayangnya, perempuan itu bukan sekadar objek foto. Dia adalah Kanaya Arutala, kurator museum sekaligus konsultan cagar budaya yang dikirim untuk mengawasi renovasi tersebut. ​Kini, Altair terjebak dalam perdebatan tiada henti dengan kurator nerdy yang kebal terhadap pesonanya. Di antara kabut Pagaralam dan artefak kuno yang mulai bermunculan, Altair menyadari satu hal: membingkai bangunan tua itu mudah, tapi memenangkan hati perempuan yang tidak bisa "dimanipulasi" itu jauh lebih sulit-dan ternyata, jauh lebih menarik.
All Rights Reserved
#324
h2h
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • The Last Yes!
  • De Andere Weg (END)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • The Villain Mother
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Chasing Sanara
  • Almost Married (END)

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines