Ketika pria yang mengurungnya akhirnya mati, Alina berpikir semuanya telah berakhir. Tapi kebebasannya hanya bertahan sesaat. Seseorang datang, mengambil alih segalanya-termasuk dirinya. "Kau bukan bebas, sayang. Kau hanya berpindah tangan." Dia lebih dingin. Lebih licik. Lebih berbahaya. Alina tahu dia harus lari, tapi setiap langkah yang dia ambil hanya membawanya lebih dekat ke dalam jebakannya. Karena bagi pria ini, cinta bukan soal memiliki. Cinta adalah mengendalikan. __ Rafael menariknya lebih dekat, menghirup aroma rambutnya sebelum berbisik, "Aku sudah bersabar, Alina. Tapi kalau kau mencoba lari lagi..." Dia berhenti sejenak, membiarkan ancamannya menggantung di udara. Alina menelan ludah. "Kau akan apa?" Rafael tersenyum kecil, lalu berbalik dan menyandarkan punggungnya di pagar balkon. "Aku akan memastikan kau tidak bisa lari lagi," jawabnya santai. "Mungkin dengan mengunci pintu? Mungkin dengan mengikatmu? Atau..." Tatapan matanya berubah lebih gelap. "Mungkin aku harus memberimu alasan yang lebih kuat untuk tetap tinggal?" Alina merasakan darahnya berdesir. ___ ✨Please vote✨ Happy reading 🥰
More details