Bagi Rian, hidup tenang di kampus adalah harga mati. Tapi ketenangan itu hancur berantakan dalam satu malam gara-gara jempolnya yang salah pencet karena mengantuk. Pesan pengakuan cinta yang super puitis-dan agak lebay-yang harusnya terkirim ke kakak tingkat idamannya, malah mendarat di nomor Devan. Masalahnya, Devan bukan cowok sembarangan. Dia adalah kapten tim basket kampus yang terkenal dingin, anti-sosial, punya tatapan mata yang bisa mengintimidasi orang, dan paling malas meladeni hal-hal tidak penting. Namun, bukannya mengabaikan pesan salah kirim itu, Devan yang sedang bosan justru memilih untuk menyembunyikan identitasnya dan meladeni chat dari Rian. Permainan kucing-kucingan pun dimulai. Di dunia maya, Rian menjadikan "si nomor asing" tempat curhat colongan tentang betapa menyebalkannya Devan di kampus. Sementara di dunia nyata, Devan sengaja menggunakan info-info dari chat tersebut untuk menjahili dan mendekati Rian secara langsung. Saat Rian mulai merasa nyaman dengan teman chatting-nya, dia tidak tahu bahwa singa yang paling dia takuti di kampus sebenarnya sedang memegang ponsel, membaca semua rahasianya sambil tersenyum tipis di barisan kursi belakang kelas. Bagaimana jadinya kalau Rian tahu kalau "lensa kamera autofocus" yang dia cari selama ini ternyata adalah cowok paling dingin se-universitas?
More details