Black Hellebore ll GxG

Black Hellebore ll GxG

  • WpView
    Reads 275
  • WpVote
    Votes 104
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jun 28, 2026
Setiap bunga memiliki makna. Namun, bunga yang tumbuh di dalam tubuh Myra hanya membawa satu hal, yaitu kehancuran. Black Hellebore. Bunga hitam yang mekar dari cinta yang tak pernah terucapkan. Semakin dekat Aileen berada di sisinya, semakin dalam Myra terjatuh pada perasaan yang tak boleh ia miliki. Karena Aileen sudah memiliki seseorang. Terlebih lagi mereka hanyalah sahabat. Beberapa cinta memang ditakdirkan untuk mekar dengan indah... Hanya agar bisa mati secara perlahan. Story by: Kardia Vein GxG area
All Rights Reserved
#190
bisexual
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Forgotten Masterpiece S1 [End]
  • Kepada Rindu
  • Eureka!
  • SOKKENAI
  • TRAIN TO BUSAN✔  (Twice Version)
  • Sacrifice [√]
  • Idiot Aria [COMPLETE]
  • Honey Bee [END]
  • Code Blue

Langkah-langkah kecil menggema lembut di lorong pameran museum. Lampu-lampu kuning temaram menyinari barisan artefak yang diam, membisu dalam keabadian. Di tengah ruangan utama, berdiri sebuah patung marmer tinggi - seorang perempuan berzirah, tombak di tangan kanan, perisai di kiri. Wajahnya teduh namun kuat, mata kosong menatap jauh melampaui zaman. "Patung apa itu?" tanya seorang anak kecil, suaranya melengking polos dalam ruangan yang sepi. Gadis itu - sekitar akhir tiga puluhan - berdiri tak jauh, memandangi patung dengan pandangan yang lebih dalam dari sekadar kekaguman. Ia menoleh, rambut hitamnya jatuh melewati bahu, lalu menjawab, "Itu seorang dewi." Anak itu menatap ibunya dengan wajah penuh tanya. "Dewi? Siapa namanya?" Senyum tipis muncul di wajah gadis itu, seolah menyambut kenangan yang lama tertidur. "Athena," katanya lirih. "Cantik, bukan?" Jawabannya menggantung di udara, mengisi celah-celah waktu yang sejenak terasa beku. Dalam tatapannya yang diam, museum itu memudar. Bau marmer dan udara dingin AC berganti dengan aroma buku tua, kopi murahan, dan suara tawa muda. Gadis itu - lebih muda beberapa tahun, duduk di antara tumpukan catatan dan lukisan - kembali hadir. Di masa itu, semuanya baru dimulai.

More details
WpActionLinkContent Guidelines