Voice Without a Face

Voice Without a Face

  • WpView
    Reads 5
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jun 11, 2026
Selama lima tahun, Sheana Haura Tanaya mengagumi Edgar, seorang penyanyi cover anonim yang tak pernah menunjukkan wajahnya kepada publik. Suaranya selalu menjadi tempat Shea kembali di tengah hari-hari yang melelahkan. Namun, saat ia mulai mengenal Manggala Hakan Alderza-teman sejurusan yang perlahan mengisi hidupnya-Shea tidak pernah menyangka bahwa ada rahasia besar yang disembunyikan oleh pria itu. Karena terkadang, orang yang selama ini kita cari di balik sebuah suara ternyata telah berdiri tepat di depan kita
All Rights Reserved
#4
romanticstory
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • The Last Yes!
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • De Andere Weg (END)
  • Chasing Sanara
  • Almost Married (END)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Nala dan Mas Juragan
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • The Villain's Mother

Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines