PROLOG Bagi seorang arsitek, ruang adalah tentang batas yang presisi. Dinding beton dibangun untuk menahan beban, pintu dipasang untuk menentukan siapa yang boleh masuk, dan setiap sudut dirancang agar tidak ada satu inci pun area yang terbuang sia-sia. Struktur yang mapan tidak boleh diganggu gugat. Bagi seorang direktur kreatif, dunia adalah tentang harmoni warna dan rasa. Sebuah kanvas yang penuh tidak memerlukan coretan tambahan jika komposisinya sudah dianggap sempurna. Menambahkan satu elemen asing pada kampanye yang sudah matang hanya akan merusak keindahan estetika yang telah dirajut bertahun-tahun. Selama enam tahun, Carmen dan Jiwoo hidup di dalam definisi itu. Hubungan mereka adalah sebuah mahakarya domestik yang kokoh di lantai dua puluh tiga sebuah apartemen di Mapo. Mereka memiliki rutinitas yang konstan, bahasa tubuh yang saling memahami tanpa kata, dan ruang privat yang aman dari kepungan ekspektasi dunia luar. Mereka tidak kekurangan apa pun. Mereka saling memiliki dengan mutlak dalam ritme yang cair dan dewasa. Mereka telah memiliki cinta yang utuh, yang bertahan melewati malam-malam penat pasca-kerja dan sunyinya kesibukan kota Seoul. Sebuah cinta yang mereka yakini sudah mencapai batas puncaknya. Mereka hanya belum tahu, bahwa hati manusia bukanlah sebuah bangunan beton dengan kapasitas yang kaku. Hati manusia adalah ruang yang terus bernapas dan meluas secara organik. They already had love, they just don't know they had room for more.
Mais detalhes