Sebelum Bel Sekolah

Sebelum Bel Sekolah

  • WpView
    Reads 88
  • WpVote
    Votes 58
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jun 17, 2026
Abbey siswi baru yang ceroboh selalu berkeliling sekolah dengan sahabatnya Rora jika ada kesempatan. Mencari sosok lelaki yang bahkan tak mereka ketahui identitasnya. Pencarian yang awalnya hanya iseng berubah menjadi perjalanan penuh rasa penasaran, hingga tanpa diduga mereka kembali dipertemukan di kantin sekolah. Namun, pertemuan kedua itu membuka kenyataan baru bahwa perasaan yang tumbuh diam diam sering kali dimulai dari hal paling sederhana, dan Abbey mungkin baru saja terjebak dalam kisah yang belum ia mengerti arahnya.
All Rights Reserved
#142
ohyul
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain Mother
  • Almost Married (END)
  • The Last Yes!
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Chasing Sanara
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Nala dan Mas Juragan
  • De Andere Weg (END)

HAPPY READING ❤️‍🔥 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines