Hujan turun pelan malam itu saat Reya berdiri di depan rumah barunya dengan perasaan asing yang memenuhi kepala.
Udara dingin bercampur aroma tanah basah memenuhi halaman rumah besar itu. Lampu-lampu teras menyala hangat, memantulkan cahaya kekuningan di jalanan yang basah oleh hujan.
Ibunya tersenyum bahagia di samping pria yang kini resmi menjadi suaminya, Drave. Sesekali Sheila menggenggam tangan Reya pelan, seolah ingin memastikan putrinya baik-baik saja.
"Masuk dulu, nanti sakit," ucap Sheila lembut.
Reya hanya mengangguk kecil.
Rumah itu terlalu nyaman untuk seseorang yang baru datang seperti dirinya. Terlalu hangat. Terlalu terasa seperti keluarga yang utuh.
Dan entah kenapa, itu justru membuat Reya semakin canggung.
"Kamarmu di lantai dua, sayang," ujar Sheila sambil membantu membawa beberapa barang.
Reya menarik koper menaiki tangga perlahan. Suara hujan samar-samar masih terdengar dari luar, membuat rumah itu terasa tenang.
Namun langkahnya terhenti saat melihat seorang laki-laki berdiri di depan salah satu pintu kamar.
Kaos hitam kebesaran, rambut sedikit berantakan, dan wajah mengantuk seperti baru bangun tidur.
Cowok itu menatap Reya beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum kecil.
"Oh... jadi ini anaknya Tante Sheila?"
Reya diam sejenak sebelum mengangguk pelan.
"Aku Jovan," katanya santai sambil menyender di pintu kamar. "Kamarku sebelah kamu."
Tatapan Reya berpindah ke pintu kamar di sampingnya.
"Jadi kalau takut tidur sendirian, boleh panggil aku."
"Gak lucu."
"Yah," Jovan terkekeh kecil. "Padahal aku serius."
Reya memutar mata pelan dan kembali berjalan menuju kamarnya. Namun sebelum pintu itu tertutup, suara Jovan terdengar lagi.
"Reya."
Perempuan itu menoleh malas.
"Selamat datang di rumah."
Untuk pertama kalinya malam itu, perasaan asing di dada Reya sedikit menghilang.
Dan sejak malam itu,
Reya sadar satu hal
cowok dari kamar sebelahnya akan menjadi awal dari banyak kekacauan baru di hidupnya.
Alle Rechte vorbehalten