Dia punya segalanya: uang, kuasa, masa depan.
Dia hanya punya satu hal yang perlahan-lahan hilang: kendali atas tubuhnya sendiri.
Mereka masih muda. Saling mencintai. Baru saja bertunangan.
Tapi suatu hari, si pendiam menerima kabar yang menghancurkan.
Tidak ada obatnya. Tidak ada harapan sembuh. Hanya penantian panjang menuju kehilangan satu per satu: jari, tangan, suara, napas.
Dia memilih diam. Tidak ingin menjadi beban.
Tapi pasangannya pria kaya raya yang terbiasa membeli apa pun yang dia mau, tidak akan membiarkan cintanya mati begitu saja.
"Kamu pikir uangku hanya buat mainan?"
"Aku akan beli waktu untukmu."
Namun cinta dan uang tidak bisa menghentikan yang namanya perlahan padam.
Lalu pertanyaannya:
Mampukah ia tetap bertahan saat kekasihnya hanya bisa menjawab "aku sayang kamu" dengan sekedip mata?
Atau justru di situlah cinta sejati diuji. Di saat satu orang sudah hampir tidak bisa mencintai kembali dengan cara yang biasa.
All Rights Reserved