Lyra Larche Book I

Lyra Larche Book I

  • WpView
    Membaca 124
  • WpVote
    Vote 5
  • WpPart
    Bab 15
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Min, Jul 5, 2026
Lyra Larche ialah detektif baru dari kota kecil yang sepi. Tidak pernah terjadi apa-apa di kota itu sehingga dia pikir pekerjaannya akan mudah. Namun, suatu malam terjadi kasus pembunuhan yang menggegerkan seisi kota. Awal karirnya langsung dimulai dengan kasus rumit yang penuh misteri. Untuk menyelesaikan kasus ini, dikirimlah 4 Agen khusus yang akan membantu Lyra menangkap sang pembunuh. Akan tetapi keempat Agen ini sama misteriusnya dengan pembunuh itu. Mampukah Lyra mengungkap pembunuhan itu dan tetap selamat hingga akhir? Atau dia menemukan perubahan yang tak terduga? (Kisah ini adalah terjemahan dari Interaktif Fiksi favorit yang saya mainkan berkali-kali. Beberapa kalimat telah diubah agar sesuai dengan FL yang kubuat di IF itu. Bisa dibilang ini sedikit seperti terjemahan fan yang dibumbuhi sedikit karangan bebas, meski ya masih sangat kental alur aslinya. Untuk pengalaman lebih seru coba mainkanlah Wayhaven sendiri dan jadilah pemeran utama). Kisah ini berfokus pada slow burn romance. Reallly realllyyy slow burn.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#376
supernatural
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Nala dan Mas Juragan
  • De Andere Weg (END)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • The Villain Mother
  • Chasing Sanara
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • The Last Yes!
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Almost Married (END)

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan