"Bandung itu sempit. Tapi entah kenapa, butuh waktu dua tahun untuk aku bisa kembali ke sini. Ke rumah, ke kamu." Dua tahun di Singapura cuma bikin Galenoline Argian Putranegara sadar satu hal: dia nggak cocok dengan keteraturan. Oline adalah aspal basah, deru mesin motor di tengah malam, dan tawa berisik barudak Bandung di pojok warung kopi. Kembali ke Bandung seharusnya jadi misi Oline untuk menikmati kebebasan. Tapi, rencana itu berantakan saat wali kelas menunjuk satu kursi kosong di barisan paling belakang. Tepat di sebelah jendela, dan tepat di samping Abirelle Rachelie Alora. Birel adalah antitesis dari hidup Oline yang berantakan. Dia anggun, tenang, dan selalu dikelilingi aura mahal yang sulit digapai. Birel jago menyembunyikan segala hal-termasuk degup jantungnya yang menggila setiap kali Oline menggeser kursi di dekatnya. Di bawah langit Bandung yang sering kali abu-abu, di antara bisingnya kelas yang isinya teman-teman "sinting" mereka, Oline dan Birel harus belajar satu hal: Bahwa terkadang, rumah bukan lagi tentang tempat, tapi tentang siapa yang duduk di sampingmu saat jam kosong dimulai. "Aku, Kamu, dan Bandung. Cerita tentang pulang, dan alasan untuk menetap."
More details