Tersesat di rumah sendiri

Tersesat di rumah sendiri

  • WpView
    Reads 210
  • WpVote
    Votes 78
  • WpPart
    Parts 17
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jun 14, 2026
WpInfo
Poetry
Free Verse
Buku ini bukan tentang kemenangan.Bukan tentang seseorang yang berhasil menaklukkan dunia.Bukan tentang akhir yang membuat semua luka menjadi indah.Buku ini adalah serpihan patah dari seseorang yang berkali-kali gagal. Mungkin ketika kamu membaca halaman-halaman berikutnya, kau akan menemukan kesedihan.kekecewaan.kegagalan. Namun di antara semua itu, ada satu hal yang tidak pernah benar-benar hilang. Yaitu, usaha untuk tetap bertahan. Karena terkadang kehidupan tidak memberikan kita kemenangan.hanya memberikan kesempatan untuk terus berjalan meski terluka. Dan mungkin itulah arti keberanian yang sesungguhnya. Jadi, jika suatu hari kamu merasa asing terhadap dirimu sendiri... merasa semua orang telah menemukan jalannya sementara kamu masih berdiri di persimpangan yang sama... Maka,duduklah sebentar di sampingku. Karena buku ini ditulis untuk kita. Untuk orang-orang yang masih mencari dirinya sendiri. Untuk orang-orang yang lelah. Untuk orang-orang yang gagal. Untuk orang-orang yang pulang tanpa membawa kemenangan. Untuk orang-orang yang diam-diam menangis di tempat yang tidak diketahui siapa pun. Untuk orang-orang yang tersesat. Bahkan ketika mereka sudah berada di rumahnya sendiri. - Tersesat di Rumah Sendiri
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Pikul Pilu Pada Pulangmu | ✔
  • My Wish
  • အချစ်၏ဟန်ပန်-𝑻𝒉𝒆 𝑺𝒕𝒚𝒍𝒆 𝑶𝒇 𝑳𝒐𝒗𝒆(Complete)
  • Rembulan Yang Sirna
  • My SIN (GXG iam Lesbian)
  • poem
  • Unexpected Married  (YUSION/SIYU  GS)
  • kumpulan cerpen kookmin/Jikook (book 2)
  • Semua Memukul (✅)

Apa yang sebenarnya manusia inginkan? Apa yang sebenarnya lahir dari kembara tanpa tuju? Menyibak kekosongan, enggan berhenti. Satu dua kali, aku pun melakukannya. "Di mana rumahmu? Apa kamu mengunjunginya akhir-akhir ini?" Semilir mengantar gembiramu pada saat gelisah sejak kemarin menjemputku. Tapak tidak mengambil jeda. Pun bibir bergetar, melengkung pahit. "Tidak. Rumahku tidak dapat aku temukan." Rumahmu mungkin bukan lagi rumah yang hangat. Terlalu terkepul tangis, dusta, dengki, dan segala lara yang dibawa seorang diri. Tanpa kenal lelah meski sebenarnya ingin menyerah. Bersama perasaan-perasaan ini, kamu akan menemukan tempat bersandar. Bersama apa pun yang tertulis di sini, mari temukan kembali dirimu yang mungkin telah lama lupa jalan pulang. *** Seri Dua dari antologi puisi FOUR ©2026

More details
WpActionLinkContent Guidelines