Museum Manusia

Museum Manusia

  • WpView
    Reads 5
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jun 10, 2026
Ada orang yang mudah diingat karena mereka luar biasa. Ada juga orang yang diingat karena tidak sengaja. Terkadang, sekadar duduk di kursi yang sama, membeli minuman yang sama setiap hari, atau membantu mengambil kertas yang jatuh lalu menghilang begitu saja. Aku suka memperhatikan orang. Bukan karena mereka menarik. Tapi karena setiap manusia selalu menyimpan cerita yang tidak terlihat. Awalnya, aku hanya ingin mencatat mereka. Tentang teman yang diam-diam takut pulang. Tentang mahasiswa yang selalu datang paling pagi. Tentang ibu kantin yang hafal pesanan semua orang. Tentang manusia-manusia biasa yang sering dilewati tanpa benar-benar dilihat. Lalu ada satu orang yang terus muncul dalam catatanku. Padahal aku tidak pernah berniat menulis tentangnya. Dan mungkin, di antara ribuan hal yang kupelajari tentang manusia, hal yang paling sulit kupahami adalah mengapa seseorang bisa terasa dekat sebelum sempat menjadi siapa-siapa.
All Rights Reserved
#657
introvert
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • MINE, NO ONE ELSE (ON GOING)
  • Be My Wife
  • The Dateline [END]
  • Pawang Hantu Om Aktor
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Silent Traces by the Sea
  • Stand by Me (END+LENGKAP)

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines