Menjadi seorang guru adalah impian terbesar bagi Kiana sejak kecil. Setelah bertahun-tahun berjuang menyelesaikan pendidikan dan mengirimkan lamaran ke berbagai sekolah, akhirnya ia diterima sebagai guru di sebuah sekolah dasar yang cukup terkenal. Hari pertama mengajar menjadi hari yang paling membahagiakan dalam hidupnya. Senyum murid-murid, suasana sekolah yang hangat, dan harapan akan masa depan membuat Kiana yakin bahwa ia telah menemukan tempat yang tepat untuk mengabdikan diri.
Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Di balik senyum ramah yang menyambutnya, ternyata tersimpan iri hati, gosip, dan perlakuan tidak adil dari beberapa rekan kerjanya. Kesalahan kecil selalu dibesar-besarkan, usahanya tidak pernah dihargai, bahkan kebaikannya sering dimanfaatkan. Sedikit demi sedikit, lingkungan kerja yang dulu ia banggakan berubah menjadi tempat yang membuatnya takut untuk datang setiap pagi.
Setiap hari Kiana berusaha tersenyum di depan murid-muridnya. Ia tidak ingin anak-anak mengetahui betapa lelah dan hancurnya dirinya. Namun ketika pintu kelas tertutup dan ia kembali menjadi dirinya sendiri, air mata yang selama ini ditahannya sering kali jatuh tanpa bisa dicegah.
Di saat yang sama, luka lama yang selama ini ia simpan kembali menghantuinya. Sejak kecil, Kiana tumbuh tanpa sosok ayah yang selalu ia rindukan. Ia terbiasa menghadapi hidup sendirian, tetapi ketika dunia mulai menunjukkan sisi paling kejamnya, kerinduan akan seseorang yang bisa melindungi, menguatkan, dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja menjadi semakin besar.
All Rights Reserved