Saranghae, Mas Bule

Saranghae, Mas Bule

  • WpView
    Reads 437
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jun 14, 2026
Jane tidak pernah menyangka kepindahannya ke Indonesia akan menjebaknya dalam pusaran obsesi Sebastian Black, bosnya yang merupakan keturunan Aussie-Italia yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia mau. Kebencian awal Jane menguap total, tergantikan oleh candu akan cinta, kemewahan, dan proteksi pria itu. Sebastian tidak hanya menghujaninya dengan harta, tetapi juga tahu persis bagaimana cara memantik api gairah terliar dalam diri Jane. Di balik pintu ruang kerja yang tertutup dan di atas ranjang yang mewah, dominasi sentuhan Sebastian selalu berhasil mengunci tubuh Jane; memaksa napas mereka beradu dalam pergulatan intim yang panas, intens, dan menuntut penyerahan total yang memabukkan.
All Rights Reserved
#414
gairah
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain Mother
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Chasing Sanara
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • The Last Yes!
  • Nala dan Mas Juragan
  • Almost Married (END)
  • De Andere Weg (END)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Revenge Marriage (SELESAI)

HAPPY READING ❤️‍🔥 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines