Bagi Aoi, duniakah yang kejam, atau dirinya sendiri yang terlalu bodoh? Terbuai oleh manipulasi manis Ren, Aoi setuju untuk ikut menyebarkan fitnah keji bahwa Hiroto-mantan kekasihnya-telah melakukan kekerasan padanya. Akibatnya, hidup Hiroto hancur dalam semalam karena dirundung seisi sekolah.
Namun, sepandai-pandainya kebohongan disimpan, kebenaran akhirnya terbongkar juga. Sahabat Hiroto berhasil mengumpulkan bukti valid yang membungkam semua orang. Seketika, roda berputar. Ren terkena batunya, dan Aoi harus membayar mahal atas aliansi butanya. Dia mengalami "kematian sosial", berbalik dibully habis-habisan oleh seisi sekolah di saat ibunya juga sedang terbaring sakit di rumah sakit.
Saat Aoi mencoba meminta maaf, Hiroto menolaknya mentah-mentah dengan dingin. Kehilangan arah dan dikucilkan sendirian, Aoi mulai berpikir untuk menyerah pada hidupnya.
Di tengah badai isolasi itu, Aoi melihat Okaya. Cowok paling tenang, lempeng, dan jarang bicara di kelas yang punya kebiasaan unik: selalu mengunyah permen tongkat sebagai pelampiasan karena usianya belum legal untuk merokok.
Okaya tidak pernah berlagak menjadi pahlawan yang pasang badan untuk Aoi di depan umum. Dia tetap acuh tak acuh demi menghindari drama sekolah. Namun, pembawaannya yang super santai justru menjadi satu-satunya hal yang membuat Aoi merasa waras. Di balik wajah lempengnya, Okaya adalah pendengar yang sangat baik. Dia tidak menghakimi, tidak mengasihani, dan selalu memberikan solusi yang masuk akal serta realistis saat Aoi mulai kehilangan arah.
Bagi Aoi, kehadiran cowok yang "kebetulan lagi selow" itu perlahan mulai mengubah rasa bersalahnya menjadi alasan baru untuk bertahan hidup, sekaligus menjadi awal dari babak baru yang perlahan mengubah isi hatinya.
All Rights Reserved