Benalu di Pohon Cemara

Benalu di Pohon Cemara

  • WpView
    Reads 7,507
  • WpVote
    Votes 821
  • WpPart
    Parts 27
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published about 12 hours ago
WpInfo
Fiction
Social Themes
Grief and Bereavement
Family Life
Growth and Self-Discovery
BROTHERSHIP! Gemin dan Gilang itu bersaudara, seibu dan seayah. Sementara Arel, dia hanyalah orang asing yang kebetulan singgah. Sekuat apa pun ia berusaha, Arel tetap tak bisa merubah fakta. Sejatinya, ia akan selalu menjadi setangkai benalu yang menumpang hidup pada pohon cemara. Di saat Gemin dan Gilang selalu memiliki tempat untuk pulang satu sama lain, Arel selalu bertanya. Di manakah rumah yang seharusnya ia jadikan tempat untuk pulang? Gemin dan Gilang selalu terikat satu sama lain sebagai dua bersaudara. Di situ Arel terus berusaha mencari celah untuk bisa masuk ke dalam ikatan yang sama. Tanpa pernah ia tahu kapan kehadirannya akan benar-benar bisa diterima.
All Rights Reserved
#2
angst
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Less
  • Who Amore???
  • EN: The Unchosen Bond
  • Adakah yang Bersedih Jika Aku Meninggal?
  • The Youngest Missing Child
  • SAGARA ARKAN GINANJAR
  • Menebus yang Hilang
  • Bring Me to Life
  • anak tengah
  • Ruang 204
Less

Kael merasa tidak ada hal yang spesial dalam menjalani hidupnya ini. Terutama di dalam keluarganya. Mereka semua bersinar dengan cahaya mereka masing-masing, cukup untuk membuat mereka terlihat tanpa perlu merebut cahaya satu sama lain. Lalu, apakah ia akan menjadi perebut hal itu? Jawabannya tidak. Bahkan ia tidak ingin menginjak cahaya yang mereka perlihatkan. Sudah cukup cahaya itu mengenai dirinya, dan rasanya terlalu menusuk. Ia bahkan telah kehilangan sesuatu yang telah rusak, sesuatu yang rasanya tidak bisa diperbaiki oleh apa pun. Dengan kebisingan orang-orang di sekelilingnya serta karakter yang selalu berganti, ia merasa kakinya masih bisa tertahan di tempat, tidak melangkah lebih jauh menuju pintu perbatasan di sana.

More details
WpActionLinkContent Guidelines