MOVED - SUNSUN.
Ada jenis kegelapan yang tidak bersumber dari ketiadaan cahaya, melainkan dari kepunahan harapan. Bagi Park Sunghoon, kegelapan itu memiliki nama, wujud, dan aroma, Jang Wonyoung.
Ketika perempuan itu melangkah pergi, dia tidak sekadar membawa separuh hati Sunghoon; dia merenggut seluruh poros dunianya, meninggalkan seorang lelaki yang hidup hanya sebagai cangkang kosong berisikan kemarahan, penyesalan, dan kehampaan yang absolut.
Sunghoon adalah perwujudan dari lirik lagu lama yang pilu: sesosok jiwa yang memandang dunia dengan sinis, menganggap semua kebaikan sebagai fatamorgana, dan melihat cinta tak lebih dari sekadar tipuan kata-kata.
Hidupnya berjalan tanpa detak, serangkai rutinitas mekanis yang dihabiskannya di sudut-sudut remang kamar, ditemani puntung rokok yang terbakar habis dan botol-botol alkohol yang mengosong, serta bayang-bayang masa lalu yang menolak mati.
Lalu, di tengah badai depresinya yang paling pekat, sepasang tangan lembut datang mencoba menepis badai.
Kim Sunoo. Teman masa kecil yang sempat hilang ke London saat mereka baru menginjak usia tiga belas tahun, kini kembali berdiri di hadapannya.
Sunoo datang bukan sebagai orang asing, melainkan sebagai sosok yang membawa seluruh ketulusan masa lalu yang telah lama Sunghoon lupakan.
Di saat dunia Sunghoon runtuh bersamaan dengan kepergian sang ibu untuk selamanya satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak gila Sunoo melangkah maju. Bukan karena kasihan, melainkan karena sebuah janji tak tertulis yang tersimpan rapi di relung hatinya sejak mereka masih kanak-kanak.
Pernikahan itu terjadi di bawah bayang-bayang duka dan keterpaksaan emosional. Sunghoon menerimanya dengan hati yang mati, sementara Sunoo menerimanya dengan dada yang siap menampung segala jenis belati.
Bagi Sunghoon, Sunoo adalah gangguan yang konstan; pengingat bahwa hidup harus terus berjalan di saat dia hanya ingin membusuk bersama kenangan Wonyoung. Namun bagi Sunoo, Sunghoon adalah rumah yang atapnya telah runtu