Sepotong Surga di Matanya

Sepotong Surga di Matanya

  • WpView
    Reads 1,028
  • WpVote
    Votes 219
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadComplete Sun, Sep 27, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
First Love
Slice of Life
Slow Burn
Karya original milik author! Tidak ada unsur copas‼️ Bab 1-7 tidak ada konflik berat ^_^ Ara tak pernah mencari cinta. Baginya, menjaga hati dan membahagiakan kedua orang tuanya adalah impian yang selalu ia genggam. Hari-harinya berlalu sederhana di tengah hangatnya keluarga, hamparan sawah, dan ketenangan desa yang selalu mengajarkannya arti syukur. Namun, kedamaian itu perlahan berubah sejak sekelompok tamu dari kota datang menginap di vila milik keluarganya. Pertemuan demi pertemuan yang tak pernah direncanakan mulai menguji prinsip yang selama ini ia jaga. Benarkah menjaga hati akan selalu mudah? Ataukah ujian terbesar justru hadir melalui seseorang yang tak pernah ia cari, tetapi diam-diam ditakdirkan untuk mengubah jalan hidupnya?
All Rights Reserved
#48
religi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Algorithm House
  • Andromeda Series : Boy of Kirana
  • Bandung Dan Kita [Segera Terbit]
  • 2 Minus 1
  • When Love Learns to Let Go
  • Retak Yang Tak Terlihat
  • Petaka Dreamcatcher (time travel fanfic)
  • Hembusan Angin Senja
  • Ravenska untuk Lyra [Proses Remake]
  • 3.265 MDPL : The Day We Made It

Rumah bukan tempat yang nyaman. Rumah adalah sistem. Radit Albisma Nugraha, mahasiswa Arsitektur tingkat akhir, tidak mendesain rumah untuk kenyamanan. Ia terobsesi pada satu hal yang tak pernah ia miliki: Kendali Mutlak. Di lereng Dago Pakar yang sunyi dan berkabut, ia membangun sebuah eksperimen beton. Bagi orang awam, itu adalah vila minimalis yang memukau. Namun, bagi Radit, itu adalah manifestasi fisik dari teori permainan yang ia buat. Radit menerapkan prinsip pemrograman dinamis ke dalam setiap inci bangunannya. Ia memecah proses pembunuhan menjadi sub-problem arsitekural. Setiap ruangan adalah stage. Setiap keputusan tamu-ke kiri atau ke kanan, lari atau diam-adalah variabel yang dihitung. Rumah ini mempelajari dan mengingat detil; ia mencatat detak jantung dan ketakutan korbannya, lalu menggunakan data itu untuk mengoptimalkan teror bagi tamu berikutnya. Ketika Bimo, seorang data scientist, terjebak di dalamnya, ia menyadari bahwa nasib sial yang menimpanya bukanlah kebetulan. Itu adalah output dari sebuah desain yang presisi. Bimo harus berpikir layaknya sebuah program untuk bertahan hidup. Namun, ia terlambat menyadari satu kesalahan fatal dalam kodingan arsitektur Radit: Rumah ini didesain sebagai pengulangan. Selamat datang di rumah di mana satu-satunya cara untuk menang, adalah dengan tidak pernah ikut bermain.

More details
WpActionLinkContent Guidelines