Snare The Love Triangle

Snare The Love Triangle

  • WpView
    Reads 1,047
  • WpVote
    Votes 569
  • WpPart
    Parts 42
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published about 11 hours ago
Zila hanya ingin satu hal: kebebasan untuk menulis mimpinya sendiri. Namun, ketika sang ayah membakar karya-karyanya dan memaksanya masuk ke dunia bisnis lewat perjodohan, hidup Zila berbalik seratus delapan puluh derajat. Keadaan semakin rumit saat takdir mempertemukannya dengan Devan pria dingin, berkuasa, sekaligus peka yang ternyata adalah calon suaminya. Devan yang dominan tahu persis bagaimana menghadapi sifat keras kepala dan mandiri Zila. Di saat Zila mulai terjebak dalam jerat perjodohan itu, masa lalu kelam kembali membayangi. Reno, sang mantan kekasih selama tiga tahun yang memiliki obsesi gila dan berbahaya, menolak melepaskan Zila begitu saja. Terjebak di antara dominasi masa depan dan obsesi masa lalu, siapakah yang akhirnya akan memenangkan hati sang penulis?
All Rights Reserved
#203
wattpadindonesia
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • The Villain's Mother
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Nala dan Mas Juragan
  • Almost Married (END)
  • Chasing Sanara
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • De Andere Weg (END)
  • The Last Yes!

Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines