RAVEN QUEEN

RAVEN QUEEN

  • WpView
    Reads 861
  • WpVote
    Votes 205
  • WpPart
    Parts 22
WpMetadataReadMatureComplete Fri, Jul 3, 2026
Di lantai paling atas sebuah gedung apartemen elit berdiri dua penthouse besar yang hanya dipisahkan lorong privat sunyi. Satu milik seorang pria yang namanya membuat dunia kriminal menunduk ketakutan. Dan satu lagi milik seorang wanita yang hidup dengan dua identitas berbeda. Di dalam penthouse bernuansa putih krem yang hangat, seorang wanita berdiri di depan meja dapur sambil menuangkan teh hangat ke dalam cangkir. Rambut hitam panjangnya jatuh lembut di punggung. Kaos oversized putih yang dikenakannya membuat tubuh rampingnya terlihat kecil dan tenang. Tidak ada yang akan menyangka wanita secantik itu mampu membunuh seseorang tanpa ragu. Uchiha Sarada menatap jendela besar apartemennya dengan mata tenang. Sampai suatu malam. Sebuah pertemuan yang seharusnya tidak berarti apa-apa justru menjadi awal dari obsesi, rahasia, dan cinta yang akan mengubah hidup mereka selamanya. Karena terkadang, orang yang paling berbahaya justru jatuh cinta paling dalam.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain's Mother
  • Chasing Sanara
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • De Andere Weg (END)
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Almost Married (END)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • The Last Yes!
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Nala dan Mas Juragan

Ngintip doang nih? 😗 🔞 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines