RIHLATUL HUBB(GATE 338)

RIHLATUL HUBB(GATE 338)

  • WpView
    Reads 60
  • WpVote
    Votes 13
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jun 26, 2026
⚠️DISCLIMER! FOLLOW SEBELUM MEMBCA Menikah dengan seorang yang kita sukai dalam diam, merupakan impian bagi para kaum wanita. Begitupun sama halnya dengan Hilya Safiyyah Azzahra. Hilya, seorang gadis berusia 24 tahun, merupakan putri sulung dari Kiai Hasan. Hilya berprofesi sebagai guru di sekolah dasar dan mengajar madrasah diniyah di pesantren milik sang Abah. Suatu pagi, seorang lelaki yang ia kagumi dalam diam datang mengunjunginya bersama keluarganya, untuk meminang Hilya. Namun na'as tragedi kecelakaan pesawat, merenggut nyawa calon suaminya-Keenan. Kejadian itu sedikit membuat Hilya terluka. Lantas apakah Hilya akan membuka hatinya untuk pria lain? Baca dan ikuti kisahnya sampai selesai ✨
All Rights Reserved
#161
populer
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • De Andere Weg (END)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Almost Married (END)
  • The Villain Mother
  • Nala dan Mas Juragan
  • Chasing Sanara
  • The Last Yes!
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • DOMINEX | The Crime Lock

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines