Di Sebalik Tabir Cinta

Di Sebalik Tabir Cinta

  • WpView
    Reads 94
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jun 1, 2015
part 1 "Tolong! Tolong! Api! Api! Wardah!!!.."tiba-tiba Tasnim terjaga dari tidurnya. Peluh membasahi dahinya. Dia sedar yang dia cuma bermimpi. Dia menghela nafas panjang dan segera beristighfar. Dia melihat jam pada skrin telefon bimbitnya. "Baru pukul 3:24 pagi", getus hatinya. Tasnim bingkas menuju ke bilik air, mengambil wudhuk untuk melaksanakan tahajud. Tasnim sedar,semenjak tragedi hitam itu berlaku,dia sering teringat-ingat akan peristiwa itu sehingga terbawa-bawa ke dalam mimpi. Mana mungkin untuk dia melupakan peristiwa yang telah mengubah takdir hidupnya. ***(imbas kembali)*** Hari itu seperti hari-hari biasa. Tasnim tidur bersama adiknya Wardah. Tiba-tiba rumahnya terbakar. Suasana begitu cemas. Tasnim tersedar dari tidur ketika api telah marak. Dia cuba untuk mengejutkan Wardah tetapi Wardah telah meninggal dunia akibat terlalu banyak terhidu asap. Tambahan pula, Wardah menghidap asma. Tasnim sedar, bahawa adiknya Wardah telah tiada. Wardah telah dijemput oleh Ilahi.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SENJA DI PUNCAK TANGKILING
  • WHY DOES MY BROTHER HATE ME?  [REV] √
  • AILAH(END)✅
  • Ghost And Love || Park Jisung and Ningning aespa
  • AFTER TASTE✅️
  • Aku Padamu Ya Ukhti (Selesai)
  • SATU RAGA SERIBU LUKA |
  • Reynis Love
  • Albel

"Jangan menatapku". Abrar masih dengan mata terpejam "Kenapa ?" " Nanti kau bisa lupa pada pacar mu". "Pfffffpfffff" Awinda mengantupkan kedua bibirnya mencegahnya tertawa lebar. "Kau benar ". " Jadi kau sudah punya pacar". " Kau mengintrogasi ku ". Kini Awinda membalasnya. Abrar menelan Salivanya. Terdiam dalam senyapnya. Ia tak ingin melanjutkan pertanyaan apapun. Karena jika ia banyak tahu kenyataan, maka bisa jadi hal - hal pahit yang akan ia dapatkan. Hidup mengajarkannya untuk sering menerima kenyataan pahit ketimbang mengharapkan sesuatu yang ternyata hanya sebatas angan dan impian. "Cepat tidur". "Belum mengantuk" sahutnya cepat. " Kenapa kau biarkan aku mengambil baju dan celana mu padahal kamu punya tenda ini. ? Bodoh ". " Ambil lah apapun yang kau mau dari ku". " Sejak kapan kau menjadi buaya ? " " Setelah masuk kedalam lubang tanah dan bertemu ratu buaya ". Awinda mencubit perut Abrar. Sehingga ia menggelinjang nyeri dan meminta ampun. Ia meraih tangan Awinda dari perutnya dan meletakkannya didadanya. " Tidurlah, ini peringatan ku yang terakhir". Perlakuan Abrar membuatnya meringis, kini Abrar juga mulai mengamcamnya. Berusaha memejamkan mata dan perasaan hangat itu kembali menjalar ulu hatinya. Ia kesulitan untuk menarik nafas namun ia mencoba menghirup udara lewat mulutnya lalu mengeluarkan kembali perlahan. " Kau kedinginan ? " Abrar membuka suara, " Hmmm " "Kau bisa terkena hipotermia dan sulit bernafas".

More details
WpActionLinkContent Guidelines