The Phoenix Who Chose Home

The Phoenix Who Chose Home

  • WpView
    Reads 29
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 17
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jun 16, 2026
Hujan turun deras di atas kompleks keluarga Shen. Di salah satu paviliun paling belakang yang jauh dari kediaman utama, Shen Haoxuan berdiri diam memandangi kereta yang telah menunggu di luar gerbang. Malam itu seharusnya menjadi malam biasa. Namun ia tahu bahwa ketika matahari terbit esok hari, banyak hal tidak akan pernah sama lagi. Pintu di belakangnya terbuka perlahan. Ha Yoonseo keluar sambil menggendong seorang bayi perempuan, sementara bayi laki-laki lainnya tertidur dalam pelukan seorang pelayan kepercayaannya. Kedua anak itu masih terlalu kecil untuk memahami apa pun.Mereka bahkan belum memiliki kesempatan untuk mengenal ayah mereka. Haoxuan menatap mereka cukup lama sebelum akhirnya mengalihkan pandangan kepada Yoonseo. "Jalan keluar sudah diamankan," katanya pelan. "Kalian harus berangkat sekarang." Yoonseo mengangguk. Tidak ada air mata. Tidak ada ucapan perpisahan yang panjang. Mereka berdua tahu bahwa semakin lama mereka menunggu, semakin besar kemungkinan seseorang menyadari apa yang sedang terjadi. Sebelum berbalik menuju kereta, Yoonseo berhenti sejenak. "Terima kasih." Hanya dua kata sederhana. Namun untuk pertama kalinya malam itu, Haoxuan merasa dadanya sesak. Ia menatap kedua bayi yang tertidur lelap tanpa mengetahui apa pun tentang dunia yang akan mereka tinggali. Tanpa mengetahui siapa dirinya. Tanpa mengetahui bahwa malam ini adalah pertama sekaligus terakhir kalinya mereka berada begitu dekat dengannya. Perlahan, Haoxuan mengulurkan tangan dan menyentuh kepala mereka. Sangat hati-hati. Seolah mereka terbuat dari kaca. "Semoga kalian tumbuh dengan bahagia." Suara itu hampir tenggelam oleh suara hujan. Sesaat kemudian kereta mulai bergerak menjauh. Haoxuan tetap berdiri di tempatnya hingga cahaya lampu kereta menghilang di balik malam.Tidak ada yang bisa ia lakukan selain memperhatikan mereka pergi.Dan diam-diam berharap bahwa suatu hari nanti, ketika mereka bertemu lagi, kedua anak itu akan memberinya kesempatan untuk menjadi seorang ayah.
All Rights Reserved
#152
idol
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Sin of The Villainess
  •   My Switched Daughter END
  • New life, New problems [END]
  • Transmigrasi: The Villain's Stepmother
  • A Family of Villains
  • The Duke'S Red String
  • Shaenette: Skenario Kedua
  • 𝐎𝐍𝐄 𝐒𝐇𝐎O𝐓🔞 •VKOOK
  • Just let me live, Duke!
  • GALEN PRADIPTA

Sera terbangun sebagai Seralyne Veyrath, villainess yang ditakdirkan mati, dihukum penggal atas perintah tokoh utama laki-laki pada hari pertamanya naik takhta. Sera hanya ingin satu hal: bertahan hidup. Untuk itu, dia mengambil satu keputusan, menjelaskan siapa dia sebenarnya, lalu membebaskan budak di penjara bawah tanah yang selama ini dilecehkan oleh tokoh Seralyne. Rhovant Winterfeld. Budak Seralyne. Tokoh utama laki-laki. Putra Mahkota yang hilang. Orang yang kelak akan mengeksekusinya. Dan yang mengejutkan adalah ... laki-laki itu memiliki wajah yang mirip dengan wajah mantan kekasih Sera di dunia modern. "Mengapa Anda membuang saya?" Dia mencium kaki Seralyne, seolah itu hal paling wajar di dunia. "Bukankah Anda menyukai wajah saya, My Lady?" * @atarazavian

More details
WpActionLinkContent Guidelines