Di mata orang lain, mereka hanya lima anak laki-laki dengan hidup yang tampak berjalan normal-bahkan sempurna. Tawa selalu ada, prestasi terus diraih, dan mimpi seolah berada dalam genggaman. Setidaknya, begitulah yang terlihat dari luar. Jasendra selalu menjadi alasan suasana terasa ringan, meski tak seorang pun tahu luka apa yang ia sembunyikan di balik senyumnya. Martana mencintai musik lebih dari apa pun, namun harus memilih antara suara hatinya dan kehendak orang tuanya. Juhana hidup di bawah sorot kamera, dituntut sempurna tanpa cela, tanpa ruang untuk gagal. Sagara perlahan mengubur mimpinya menjadi pemain sepak bola, belajar menerima kenyataan yang tak pernah ia minta. Sementara Kenara berenang mengejar piala pertamanya, memikul harapan yang terlalu besar untuk usia semuda itu. Mereka belajar tertawa di waktu yang salah, diam saat ingin berteriak, dan berkata "kami baik-baik saja" ketika kenyataannya tidak demikian. Di antara persahabatan, tekanan, dan mimpi yang dipatahkan, kelimanya harus menghadapi satu pertanyaan yang sama: sampai kapan seseorang bisa berpura-pura kuat sebelum benar-benar runtuh? #CortisAU
More details