LOVE OR OBSESS?

LOVE OR OBSESS?

  • WpView
    Reads 21,101
  • WpVote
    Stemmen 942
  • WpPart
    Delen 19
WpMetadataReadVoor volwassenenLopende
WpMetadataNoticeLaatst gepubliceerd don, jul. 23, 2026
WpInfo
Fictie
Romantiek
Erotiek
Gelukkig Einde
Duistere Romantiek
IF U READ IT, U MUST VOTEβ€ΌοΈπŸ’’ dijamin seru πŸ”ž
Alle rechten voorbehouden
Word lid van de grootste verhalengemeenschapOntvang persoonlijke verhaal aanbevelingen, sla je favorieten op in je bibliotheek en geef commentaar en stem om je gemeenschap te laten groeien.
Illustration

Je bent misschien ook geΓ―nteresseerd in

  • CRAZY LOVE
  • ME, YOU, AND THIS MADNESS
  • obses teman ku yang menjadi suami ku. hyperxpolos.
  • Ketua Butuh Kehangatan [ End ]
  • CEO Vs Gadis Polos
  • Perjodohan ketua geng motor.
  • loving caregiver
  • home was you
  • "obsesi sang iblis"
  • 𝑃𝐸𝑅𝐽𝑂𝐷𝑂𝐻𝐴𝑁 π»π‘Œπ‘ƒπΈπ‘…
  •  Matchmaking Results
  • No That Bad(Nikah Muda Perjodohan)
  • HYPR DENGAN ISRTI SENDIRI
  • POSESIF AND OBSESSION HUSBAND
  • badboy manja & bu ketos galak
  • The Sun's Moon
  • Obsession?
  • DIREKTUR GILA! (MILEN)
  • nikah dulu cinta nanti
  • Valendra

Mereka bilang, tidak semua pernikahan dimulai dengan cinta. Camila Reveltone tidak pernah membayangkan... bahwa pernikahannya bahkan tidak dimulai dengan perasaan apa pun. Tidak cinta. Tidak benci. Bahkan tidak dianggap ada. Malam itu, aula megah keluarga Aguilar dipenuhi cahaya kristal dan bisikan halus orang-orang berkelas. Semua terlihat sempurna-gaun putih yang jatuh anggun di tubuhnya, senyum yang dipaksakan, dan cincin yang terasa terlalu dingin di jari manisnya. Camila berdiri di samping pria yang akan menjadi suaminya. Aurelian Aguilar. Dan pria itu... bahkan tidak menoleh padanya. "Jangan terlalu berharap," suara itu datang pelan, dingin, seolah hanya untuknya. Bukan dari Aurelian. Camila menoleh. Di sana-sedikit jauh dari keramaian, bersandar santai dengan segelas minuman di tangan-sepasang mata gelap menatapnya tanpa ragu. Valerian Aguilar Adik dari pria di sampingnya. Tatapannya tidak sopan. Tidak hangat. Tapi juga... bukan kosong seperti milik Aurelian. Tatapan itu seperti sedang membaca sesuatu. Atau... menginginkan sesuatu. "Apa maksudmu?" tanya Camila, suaranya cukup tenang meski jantungnya mulai berdetak tidak wajar. Valerian tersenyum tipis. Bukan senyum ramah. Lebih seperti rahasia. "Kakakku tidak pernah menginginkan ini," ujarnya. "Dan kamu... tidak terlihat seperti seseorang yang akan bertahan lama di dunia kami." Kalimat itu seharusnya menyakitkan. Tapi anehnya-yang membuat Camila sulit bernapas bukanlah kata-katanya. Melainkan cara Valerian menatapnya setelah itu. Seolah-olah... dia adalah satu-satunya orang di ruangan itu yang benar-benar melihatnya. Untuk pertama kalinya malam itu, Camila merasa... ada yang salah.

Meer details
WpActionLinkInhoudsrichtlijnen