"Kalau suatu hari aku pergi, kamu harus tetap hidup, ya?"
Virlya selalu menganggap kalimat itu sebagai candaan. Baginya, Bava terlalu ceria untuk memikirkan hal-hal semacam itu. Laki-laki itu selalu hadir dengan senyum hangat, cerita-cerita aneh, dan cara bicara yang mampu membuat hari terburuk sekalipun terasa sedikit lebih ringan.
Padahal, yang tidak pernah Virlya sadari adalah bahwa Bava sedang berjuang melawan waktunya sendiri.
Di saat Virlya tenggelam dalam depresi, kehilangan semangat hidup, dan perlahan menjauh dari dunia, Bava hadir tanpa diminta. Ia tidak menawarkan keajaiban, tidak memaksa Virlya untuk berubah, dan tidak pernah berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Ia hanya menemani.
Sedikit demi sedikit, Bava membantu Virlya menemukan alasan untuk bertahan. Mengajarinya bahwa hidup tidak selalu tentang kebahagiaan, tetapi tentang keberanian untuk tetap melangkah meski terluka.
Namun, ketika Virlya akhirnya berhasil berdamai dengan dirinya sendiri dan kembali menemukan cahaya dalam hidupnya, kenyataan justru merenggut satu-satunya orang yang telah menuntunnya keluar dari kegelapan.
Bava pergi.
Meninggalkan kenangan, janji, dan ribuan kata yang tidak sempat terucap.
Kini, Virlya harus belajar menjalani hidup tanpa sosok yang selama ini menjadi rumahnya.
Karena terkadang, orang yang paling berhasil menyelamatkan kita adalah orang yang tidak pernah sempat menyelamatkan dirinya sendiri.
Sebuah kisah tentang kehilangan, harapan, persahabatan, dan seseorang yang mengajarkan arti hidup sebelum akhirnya mengucapkan selamat tinggal.
Pusat Rehabilitas Harapan Baru , merupakan awal dari pertemuan Bava dan Virlya.
All Rights Reserved