My Annoying Neighbor

My Annoying Neighbor

  • WpView
    Reads 17
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jun 20, 2026
Rasti Nirbita Danurdara tidak pernah menyangka pindah kos akan menjadi awal dari masalah baru dalam hidupnya. Astra House seharusnya menjadi tempat yang aman setelah kejadian pencurian di kos lamanya. Tapi ternyata, "aman" hanya berlaku untuk hal-hal di luar... bukan untuk tetangga sebelah kamarnya. Fauzan Abimana Zayendra. Kakak tingkatnya di kampus. Mahasiswa Manajemen Bisnis semester 6. Dan juga... orang paling menyebalkan yang pernah ia temui. Berisik. Suka seenaknya. Dan seolah menjadikan hidup Rasti sebagai hiburan sehari-hari. Sejak hari pertama mereka sudah saling bermusuhan. Di kos, mereka perang kecil setiap hari. Di kampus, mereka seperti tidak pernah bisa berdamai. Namun Rasti tidak tahu satu hal. Sebelum semua kebencian itu dimulai... mereka sudah saling mengenal. Tanpa nama. Tanpa wajah. Hanya lewat kata-kata di dunia anonim yang membuat mereka saling jatuh nyaman-tanpa tahu bahwa orang itu adalah musuh mereka sendiri di dunia nyata. Dan ketika kebenaran itu mulai terungkap... tidak semua perasaan bisa disederhanakan menjadi "benci" atau "cinta".
All Rights Reserved
#65
lovehaterelationship
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • The Last Yes!
  • Nala dan Mas Juragan
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Chasing Sanara
  • The Villain Mother
  • Almost Married (END)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • De Andere Weg (END)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines