Seberapa jauh kamu sanggup bertahan jika setiap jalan yang kamu tempuh selalu berakhir pada perpisahan yang sama? Bagi Kaivan, hari Selasa telah menjadi sebuah labirin waktu yang menahannya di stasiun kereta, memaksanya mendekap hangat tubuh yang sama sebelum cahaya putih datang untuk merampasnya kembali. Di antara detak jantung yang berpacu dengan deru kereta, ia harus memilih: tetap abadi dalam pengulangan yang menyiksanya demi satu pelukan fana, atau akhirnya membiarkan tangan itu terlepas agar hari esok dapat menjemputnya pulang.
More details