Cinta yang sederhana itu seperti selembar kertas putih. Kelihatannya biasa saja, namun ia mampu menampung tulisan tentang kebahagiaan yang paling tinggi, sekaligus air mata dari kesedihan yang paling dalam. Ia rumit justru karena ia begitu jujur; ia tidak pernah berpura-pura bahwa mencintai itu akan selalu mudah. Namun, terlepas dari semua rasa sakit dan keputusasaan yang mungkin dihadirkannya, manusia akan selalu memilih untuk mencintai, karena tahu bahwa hidup tanpa cinta akan jauh lebih hampa. Cinta yang sederhana tidak butuh panggung yang megah atau perayaan yang mewah. Ia hidup dalam secangkir kopi hangat di pagi hari, sebuah pesan singkat bertuliskan "hati-hati di jalan", atau keheningan yang nyaman saat dua orang duduk berdampingan tanpa perlu bersuara.
Namun, mengapa sesuatu yang tampak sesederhana itu bisa menjadi hal yang paling rumit di dunia?
Karena di balik kesederhanaan itu, ada penyerahan diri yang sepenuhnya. Menyerahkan hati kepada orang lain berarti memberikan mereka kekuatan penuh untuk membahagiakan kita, sekaligus kekuatan untuk menghancurkan kita. Kerumitannya terletak pada bagaimana satu senyuman dari orang yang sama bisa mengubah seluruh harimu, dan satu helai jarak darinya bisa membuat duniamu terasa runtuh.
Cinta yang indah tidak tercipta karena dua orang yang terbebas dari masalah, melainkan karena dua orang yang memilih untuk tidak menyerah. Cinta itu berharga justru karena ada air mata yang tumpah dalam perjuangannya, ada doa yang bisu dalam keputusasaannya, dan ada kemenangan yang manis ketika kebahagiaan berhasil dipertahankan bersama. Ketika cinta menghadirkan kesedihan, keputusasaan, dan rasa yang menyakitkan, di sanalah perjuangan itu diuji. Cinta yang sejati adalah keberanian untuk berjalan melewati ruang-ruang gelap tersebut. Ia adalah perjuangan untuk saling menyembuhkan ketika salah satu terluka, dan berjuang untuk saling memaafkan ketika kekecewaan datang mengetuk pintu
All Rights Reserved