Martabak: Rasa Sekretaris

Martabak: Rasa Sekretaris

  • WpView
    Reads 37
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jul 12, 2026
Maya pikir hidupnya yang membosankan ini akan terus berlangsung lama sampai dia tua. Sampai di mana pikiran itu hilang ketika Maya menemukan sosok yang terus menghantui pikirannya. Itulah Maya, jiwanya yang ekstrovert yang sangat tertantang untuk menggoda seorang pria yang diketahui telinganya sering memerah akibat rayuan seorang Maya. "Sebab rasa manis ini bukan karena taburan mesis, melainkan melihat Mas Gavin yang mendadak malu di depan aku."
All Rights Reserved
#6
manis
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Nala dan Mas Juragan
  • Chasing Sanara
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • The Villain Mother
  • De Andere Weg (END)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • The Last Yes!
  • Almost Married (END)

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines