Menumbangkan Takhta Yang Hampa

Menumbangkan Takhta Yang Hampa

  • WpView
    Reads 1
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jun 15, 2026
Sebagai putri kerajaan terbesar di tanah antlora, dirinya sering terkurung di balik tebalnya dinding istana Hingga suatu hari. Ketika dirinya mengira semuanya akan baik-baik saja wabah yang mengancam nyawa melanda kerajaannya Sang putri yang tak ingin terus dikurung di saat yang penuh ancaman pun menyelinap keluar dari istananya Namun di perjalanannya ia menemukan jejak masa lalu yang akan mengubah kehidupannya Kini dirinya harus memilih di antara terus bersembunyi di balik dinding istana atau berlari jauh ke dalam hutan masa lalu
All Rights Reserved
#230
highfantasy
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Ibu Tiri Menolak Mati di Kehidupan ke-7
  • Transmigrasi: The Villain's Stepmother
  • Sin of The Villainess
  • adik ipar cantik
  • Shaenette: Skenario Kedua
  • Just let me live, Duke!
  • The Duke's Red String
  • Abo Desire
  • The Unwritten Lady
  • A Family of Villains

Enam kali mati dibunuh tepat di usia 22 tahun. Di kehidupan ketujuh, Ravenna menolak menjadi mangsa. Sebagai seorang mantan pendidik, Ravenna tahu cara terbaik menghukum orang bodoh bukanlah dengan air mata, melainkan dengan merampas apa yang paling mereka hargai. Maka, ia membatalkan pertunangannya dengan Putra Mahkota secara elegan, mengosongkan brankas ayahnya, dan menyerahkan diri kepada pria paling berbahaya di benua itu-Grand Duke Alaric von Blackwood, sang Monster Utara. Tawarannya sangat sederhana: "Jadikan aku istri kontrak selama lima tahun. Aku akan mendidik dua anakmu dan menjadi perisai politik dari hukum Istana. Setelah anak-anakmu aman, ceraikan aku dengan pesangon emas." Bagi Ravenna, ini hanyalah transaksi bisnis. Ia hanya ingin selamat dari maut dan pensiun dengan tenang. Namun, logika dan rencananya gagal meramalkan satu hal... Dua anak tiri yang konon 'monster' itu kini menangis memeluk kakinya, enggan dilepaskan. Sementara sang Grand Duke yang terkenal berhati beku? Pria itu menatap Ravenna dengan sorot posesif yang menggelapkan akal sehat. "Kau yang memulai permainan ini, Istriku. Jangan harap aku akan melepaskan apa yang sudah menjadi milikku."

More details
WpActionLinkContent Guidelines