Menjadi seorang yatim pasif membuat Sarle membenci sekolah; ada Wawan si tukang palak yang selalu mengejarnya kemana-mana, kroco-kroconya yang kerap menghadang di setiap sudut, serta ketua kelas berkepala batu. Semua itu karena Sarlee memiliki ketidakjelasan kelahiran. Namun, Sarle suka guru Bahasa Inggrisnya, Miss Silvia, serta anak lucunya yang masih baduta. Juga, dia suka suaminya yang begitu kekinian.
Sekolah jadi tak seburuk itu karena ada figur keluarga yang terasa pas dan sempurna untuknya. Sarle harap, andai saja dia menjadi anak mereka. Menjadi bagian keluarga kecil itu.
Akan tetapi hubungan itu, antara Sarlee dan suami guru Bahasa Inggrisnya, mulai berubah menjadi mimpi buruk. Tumbuh dengan tanpa cinta membuat Sarlee dapat dengan mudah dijebak pada cinta yang semu. Sarlee mulai bertanya-tanya, mungkin sebaiknya dia tidak terlibat sejak awal.
Atau lebih baik lagi, mungkin, andai saja Sarle tak pernah mengenal mereka sama sekali.
---
*TW: Sexual Abuse, Child Grooming
All Rights Reserved