Good Luck, ROSE!

Good Luck, ROSE!

  • WpView
    Reads 296
  • WpVote
    Votes 31
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jun 23, 2026
(Warning: Jangan dibajak! Jadilah pembaca yang keren.) Rose menatap Jace dari kejauhan dengan tatapan memuja yang begitu tulus. "Aku sungguh sangat mencintaimu," isaknya pelan dengan air mata yang enggan menemui hentian. Oh sial! Bertahun-tahun sudah nama Jace bertahta di hati Rose dan bertahun-tahun pula Rose tidak pernah terlihat di mata Jace. Kalau saja Jace tak datang ke pesta ulang tahun Rose waktu itu, kalau saja bibir seksi Jace tersenyum dan tidak cemberut. Kalau saja Jace tak mengusir dan langsung memberitahu siapa namanya saat Rose bertanya. Mungkin semuanya tidak akan sesakit ini. Mungkin Rose tidak akan pernah patah hati separah ini dan mungkin Jace tak akan pernah menangis!
All Rights Reserved
#171
love
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Double AL (COMPLETE)
  • R É G A L I S
  • The Imperfect Señorita
  • NINGRUM
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Almost Married (END)
  • PENGGANTI
  • The Last Yes!
  • Stand by Me (END+LENGKAP)

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines