Pelajaran pertama yang kamu dapatkan saat magang di situs arkeologi Pompeii: medan berbatu bisa membuat kakimu melepuh.
Pelajaran kedua: jangan pernah meninggalkan roti lapis daging dan kejumu tanpa pengawasan di dalam mobil.
Sebab, seorang dewa Yunani yang sedang kelaparan bisa saja merampoknya.
Helena Roxane hanyalah mahasiswi semester akhir biasa yang menderita krisis kelulusan. Rencana hidupnya sangat simpel, gali tanah, temukan artefak kuno, jadi arkeolog terkenal, lalu pensiun dengan tenang. Tapi rencana itu mendadak buyar ketika ia mendapati seorang cowok eksentrik berhelm sayap duduk santai di jok mobilnya, mengunyah bekal siangnya, dan mengaku sebagai Hermes-Dewa Perjalanan sekaligus Pelindung Para Pencuri.
Awalnya Helen mengira cowok ini murni pasien rumah sakit jiwa yang lepas. Namun, setelah si Dewa Pencuri mendadak pamer kemampuan teleportasi dan membuat Helen diteriaki "Bodoh!" di tengah kuil tanpa ada satu pun turis yang menyadarinya, Helen terpaksa menerima kenyataan pahit, mitologi itu nyata, dan logikanya baru saja terbang bersama sayap sayap di helm sang dewa perjalanan.
Ternyata, Olympus sedang mengalami krisis internal yang sangat amat parah, dan dewa-dewi agung masa lalu kini malah tersebar di bumi, hidup sebagai manusia biasa yang amnesia total. Hermes butuh keahlian Helen untuk melacak mereka kembali sebelum "sesuatu yang buruk" terbangun dari kegelapan.
Dihadapkan pada pilihan antara melanjutkan magang yang membosankan atau keliling dunia bersama dewa penipu yang hobi mencuri karbohidrat, Helen akhirnya memilih opsi kedua.
Lagipula, memiliki koneksi orang dalam di Olympus sepertinya bagus untuk CV-nya nanti.
Satu yang Helen tahu pasti, petualangan ini akan sangat menguras emosi, melelahkan, dan ia membutuhkan cadangan roti lapis yang jauh lebih banyak, kau tak tau kapan dewa pencuri lapar dan mencuri roti lapismu, lagi.
Creative Commons (CC) Atribuição