Letter to God

Letter to God

  • WpView
    Reads 412
  • WpVote
    Votes 80
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jun 27, 2026
Kepada Tuhan... Kukirimkan sebuah surat yang berisi tanya dan pinta dari seorang anak kecil yang menunggu datangnya dongeng-dongeng indah di kemudian hari yang tak pernah lagi ia dengar. Kepada Tuhan.... kukirimkan surat berupa tanya, benarkah Engkau adalah sebaik-baik perajut takdir? jika iya, lalu mengapa rajutan takdirku terasa cacat dan penuh cela?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Naren dan Kepulangan✓
  • Utara Abangdja
  • Denting Yang Pulang
  • Menanti Basuh
  • Paper Heart Days
  • Sembuh?
  • Atma Lara penuh Asa
  • Retak yang Sama (REVISI!)
  • Lentera Teduh
  •  Laut temaram

[FOLLOW DULU AKUN CUMELS SEBELUM BACA!] "Di kehidupan selanjutnya, aku hanya ingin menjadi anak yang memiliki keluarga utuh." -Naren Agibrata Tidak ada anak yang memilih terlahir dalam keluarga yang tidak utuh. Begitu pula dengan Naren. Sejak kecil, ia harus kehilangan sosok ayah dan ibu karena keegoisan kedua orang tuanya yang memilih pergi meninggalkan dirinya bersama luka dan trauma yang tak pernah benar-benar sembuh. Kini Naren hanya hidup bersama neneknya. Ia bertahan dengan uang kiriman dari ibunya yang datang tidak menentu. Untuk membantu kebutuhan sehari-hari, Naren rela berjualan apa saja agar tidak menjadi beban dan di marahi oleh sang nenek. Bahkan ia terpaksa meninggalkan bangku sekolah karena keadaan yang tidak memungkinkan. Trauma yang terus menghantuinya membuat Naren kesulitan berinteraksi dengan orang lain, hingga perlahan hampir merenggut kewarasannya. Di usia yang seharusnya dipenuhi tawa, pertemanan, dan berbagai kenangan indah masa remaja, Naren justru hidup dalam neraka yang tak kunjung usai. Hari demi hari ia lalui dengan rasa sakit yang membuatnya berharap semua penderitaan itu segera berakhir. Hingga suatu hari, ayahnya mengajak Naren untuk tinggal bersama keluarga barunya. Untuk pertama kalinya, Naren berharap hidupnya akan berubah menjadi lebih baik. Ia membayangkan sebuah rumah yang bisa memberinya kehangatan dan kesempatan untuk memulai kembali. Namun harapan itu tidak berlangsung lama. Di rumah tersebut, Naren bertemu dengan Diksa, saudara tirinya yang selalu menjadikannya kambing hitam atas setiap kesalahan yang diperbuat. Lebih menyakitkan lagi, ayahnya selalu mempercayai Diksa tanpa memberi Naren kesempatan untuk membela diri. Setiap tuduhan, setiap kesalahan, dan setiap masalah seolah selalu berakhir di pundaknya. Naren lelah, ia hanya ingin merasakan arti sebuah keluarga. Saat ini pilihannya hanya Dua. Mati atau bertahan dengan semua rasa sakit yang ada?

More details
WpActionLinkContent Guidelines