Di lapangan basket, Axelio Zaverion adalah Kapten yang tidak tersentuh-dingin, cuek, dan tegas. Namun, tak satu pun orang di sekolah tahu bahwa separuh dari kewarasannya tertinggal pada sebuah kalung berbandul cincin perak polos yang melingkar erat di lehernya.
Bagi Sherena Garletta, cowok ketus bertubuh tegap itu hanyalah bocah SMA yang selalu menggemaskan setiap kali sedang merajuk. Dia terlalu sibuk menata dunianya sendiri, hingga tak sadar akan tatapan dalam dan debaran gila Zion yang selalu disembunyikan di balik wajah temboknya.
Sheren mengira, setelah lima tahun menghilang tanpa pamit, segalanya akan tetap sama.
Dia salah besar.
Adik kecil yang dulu pipinya bisa ia cubit sesuka hati, kini telah tumbuh menjadi laki-laki dewasa berbahu tegap yang siap menembus badai demi melindunginya.
Namun bersamaan dengan itu, Zion juga membawa sejuta pertanyaan, kemarahan, dan penolakan yang membentengi hatinya.
"Berhenti panggil aku adik. Karena yang berdiri di depan kamu sekarang, punya cara sendiri buat bikin kamu lupa gimana caranya bernapas."
Saat benteng 'kakak-adik' mulai retak, sanggupkah Sheren terus menyangkal hatinya sendiri? Ataukah Zion yang akhirnya terpaksa menyerah pada perasaannya?
Tutti i diritti riservati