Anara Moretta

Anara Moretta

  • WpView
    Reads 3
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jun 19, 2026
Prempuan yang baru lulus sekolah menengah atas kini tengah pontang panting mencari kerjaan dimanapun. Guna membiayai kebutuhan hidup ponakannya alias anak dari kakak kandungnya serta membayar hutang-hutang dari berbagai bank Anara Moretta, prempuan yang berusia dua puluh dua tahun ini memutuskan untuk merantau dan menitipkan ponakannya kepada neneknya sementara waktu, sampai ia bisa mendapatkan uang yang cukup dari hasil merantau nya. Jika kalian bertanya, dimana ibu dari ponakan Anara, dan bagaimana cara Anara menghadapi kehidupan baru saat merantau? Jawabannya hanya satu. Baca cerita ini. -mminji • karya ini dari hasil ketik tangan penulis pemula bukan chatgpt atau sejenis AI lainnya. jadi maafkan bila ada typo di cerita. • cerita ini murni dari khayalan penulis sendiri, bukan plagiat dari cerita lain. • jika kalian merasa cerita ini mirip dengan cerita dari penulis lain, itu hanyalah kebetulan semata. • ingat lagi, bahwa cerita ini murni khayalan ku sendiri. Happy Reading semuanyaaa
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain's Mother
  • The Last Yes!
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Nala dan Mas Juragan
  • Almost Married (END)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Chasing Sanara
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • De Andere Weg (END)

Ngintip doang nih? 😗 🔞 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines