Already Enough (XIZHAO)

Already Enough (XIZHAO)

  • WpView
    Reads 1,619
  • WpVote
    Votes 255
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jul 14, 2026
He Yanzhao datang ke Alpha Camp untuk membuktikan dirinya. Ia sudah terbiasa menjadi yang kedua, tetapi kali ini ia bertekad menjadi yang terbaik. Semuanya berjalan sesuai rencana sampai He Changxi mulai memperhatikannya. Semakin keras Yanzhao menjaga jarak, semakin sulit mengabaikan pria itu. Dan semakin dekat mereka, semakin sulit menyembunyikan rahasia yang bisa menghancurkan seluruh hidupnya.
Public Domain
#6
heyanzhao
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Dendam yang Menghasilkan Bunga Karma
  • THE MARRIAGE GLITCH - XINGQIU ( END )
  • Downbadism - (XiZhao)
  • How to Matchmake a Heart (XIZHAO)
  • mysterious person in the dream
  • Echoes Of Yesterday [XIZHAO]
  • Wasiat Cinta ✓ - [XingQiu]
  • About Sea
  • TRAP
  • Getaran menggoda yang meruntuhkan

Dendam tak pernah mati. Ia hanya tidur, berakar di tanah luka, menunggu hujan air mata untuk mekar. Dulu, Xia Liu Yi adalah musim panas: terik, menyilaukan, membakar siapa saja yang berani mendekat tanpa pangkat. Dengan jemari berhiaskan cincin emas, ia meremukkan selembar surat cinta dan menaburkannya ke hadapan Chusan-anak beasiswa yang datang dengan sepatu menganga dan mimpi yang terlalu tinggi. Waktu bergulir. Tuhan menukar peran. Musim panas Liu Yi membeku. Hartanya luruh, papanya menjadi tanah, mamanya menjadi angin yang pergi tak kembali. Kini ia hanya anak kucing jalanan, menggigil di bawah bulan purnama, menjaga tas lusuh berisi seluruh hidupnya. Lalu malam itu datang. Pisau begal, jerit yang pecah, dan raungan motor yang membelah takdir. Seorang pria turun dari kegelapan, menumbangkan lawannya dengan dingin yang lebih menusuk dari udara. Saat helm terbuka, Liu Yi melihat wajah masa lalu yang menjelma jadi kutukan: rahang yang mengeras, mata yang tak lagi menunduk. Itu Chusan. Anak miskin yang dulu ia injak, kini berdiri sebagai tembok marmer-megah, keras, tak terjangkau. Chusan menatapnya seperti orang asing. "Kita pernah ketemu?" tanyanya, sopan seperti belati berlapis sutra. Di antara keduanya, aroma Oleander menguar. Bunga yang cantiknya adalah racun. Sama seperti dendam yang mereka simpan, sama seperti cinta yang tak pernah mati, hanya berubah wujud. Ini bukan kisah tentang maaf. Ini kisah tentang bunga yang tumbuh dari bangkai rasa. Tentang dua manusia yang saling menagih: satu menagih keadilan, satu lagi menagih kesempatan kedua yang mungkin sudah tak ada. Karena karma, jika telah mekar, tidak akan layu sebelum ada yang terluka.

More details
WpActionLinkContent Guidelines