[Warning]!
Trigger Warning:Mengandung elemen politik, sarkasme tajam, penggambaran aksi demonstrasi, konflik sosial, serta suasana *angst* yang intens.
Disclaimer: Cerita ini adalah karya fiksi. Segala kemiripan dengan kejadian, tempat, atau tokoh nyata adalah kebetulan belaka. Penulis tidak bermaksud menyinggung pihak mana pun; narasi ini murni untuk kepentingan pengembangan cerita.
[Cast]
Daniel Baskara Putra as Abian
* **Medianna Tahir as Jelita
Deskripsi]
"Negeri ini tidak butuh pahlawan. Negeri ini cuma butuh saksi yang cukup waras untuk mencatat kejatuhannya."
Bagi Abian, kamera hanyalah alat untuk merekam sandiwara. Di depan matanya, ribuan orang berteriak di depan gedung marmer yang tuli akan jeritan rakyat, sementara para penguasa di dalam sana sibuk menghitung angka di balik meja makan mewah. Abian tidak peduli pada revolusi-sampai ia bertemu dengan Jelita.
Jelita, dengan segala kemewahan dan dinginnya tatapan itu, bukanlah sosok yang seharusnya ada di barisan depan kerusuhan. Namun, sorot matanya yang menyimpan luka masa lalu memaksa Abian untuk berhenti jadi penonton. Di tengah gas air mata, debu jalanan, dan kepulan asap kimia, mereka terjebak dalam arus yang jauh lebih besar dari sekadar demonstrasi.
Sejarah bukan untuk dipelajari, tapi untuk diulangi dengan cara yang paling tragis. Di Bumi Ja, mereka berdua hanyalah dua jiwa yang dipaksa berdiri di sisi yang sama, di tempat di mana kebenaran adalah barang yang sudah lama tidak lagi dijual.
Jangan cari keadilan di sini. Karena di dunia ini, kebenaran hanyalah sesuatu yang harus kau bayar dengan nyawa.
Selamat menikmati
All Rights Reserved