Di sebuah kota tanpa nama, tempat harapan perlahan mati bersama orang-orang yang tinggal di dalamnya, Nirbana Karma hidup sebagai wartawan investigasi yang hanya percaya pada satu hal: kebenaran.
Bagi Nirbana, dunia adalah mesin penderitaan. Korupsi, kemiskinan, kekerasan, dan ketidakadilan bukanlah kecelakaan, melainkan bagian dari sistem yang tidak dapat diperbaiki. Selama bertahun-tahun ia menulis tentang kebusukan manusia, menghancurkan reputasi para pelaku kejahatan, tetapi tidak pernah benar-benar melihat dunia berubah.
Hingga sebuah penyelidikan terhadap sindikat senjata hampir merenggut nyawanya dan membawanya bertemu dengan Haris, seorang dokter tua yang menghabiskan hidupnya merawat orang-orang yang bahkan tidak mampu membayarnya.
Nirbana melihat Haris sebagai sebuah kontradiksi. Seorang pria yang telah kehilangan istri dan anaknya karena kekejaman dunia, tetapi masih memilih untuk membuka pintu bagi orang lain. Seorang manusia yang mengetahui dunia penuh penderitaan, namun tetap memilih untuk berbuat baik.
Di antara keduanya muncul pertanyaan yang tidak memiliki jawaban mudah:
Apakah kebaikan tetap memiliki arti jika dunia tidak berubah?
Apakah harapan hanyalah kebohongan untuk membuat manusia bertahan hidup?
Atau justru keberanian terbesar manusia adalah tetap melakukan hal yang benar meskipun tidak ada jaminan kemenangan?
Ketika seorang pengagum muda bernama Adi salah memahami filosofi Nirbana dan tragedi besar terjadi, Nirbana dipaksa menghadapi konsekuensi dari kata-katanya sendiri.
Untuk pertama kalinya, ia tidak hanya melihat penderitaan sebagai angka dan berita, tetapi sebagai luka nyata yang memiliki wajah dan nama.
Dalam dunia yang tidak menjanjikan keadilan, Nirbana harus menemukan jawabannya sendiri.
Bukan tentang bagaimana menyelamatkan dunia.
Tetapi apakah seseorang masih memilih membuka pintu ketika ia tahu kegelapan mungkin ada di baliknya.
"Jika dunia tidak dapat diselamatkan, apakah masih ada alasan untuk berbuat baik?"
All Rights Reserved