Pada Musim yang Kedua
Ada beberapa perasaan yang tidak pernah benar-benar pergi.
Ia hanya bersembunyi di sudut hati, diam-diam menetap di antara waktu yang terus berjalan, menunggu musim yang tepat untuk kembali mekar.
Dan Zara tahu itu.
Enam tahun bukanlah waktu yang singkat. Cukup lama untuk membuat seseorang tumbuh, berubah, dan belajar menerima bahwa tidak semua hal yang diinginkan akan menjadi miliknya.
Dulu, ada seorang laki-laki yang pernah singgah di hatinya. Seseorang yang tidak pernah menjadi miliknya, tetapi juga tidak pernah benar-benar hilang dari ingatannya.
Mereka tidak pernah memulai apa pun.
Tidak ada kata "jadian", tidak ada janji yang diucapkan, bahkan tidak ada perpisahan yang jelas.
Mereka hanya... berhenti.
Lalu waktu membawa mereka ke arah yang berbeda.
Zara memilih melanjutkan hidupnya. Ia mencintai orang lain, menghabiskan enam tahun bersama seseorang yang ia kira adalah rumah. Hingga pada akhirnya, ia menyadari bahwa kesetiaan yang ia jaga sepenuh hati ternyata tidak dijaga dengan cara yang sama.
Dan ketika semuanya runtuh, ketika hatinya belajar menerima bahwa tidak semua yang diperjuangkan akan bertahan, semesta mempertemukannya kembali dengan seseorang yang pernah ia tinggalkan.
Laki-laki yang sama.
Dengan tatapan yang sama.
Dengan senyum yang masih mampu membuat hatinya berdebar seperti enam tahun lalu.
Seolah waktu tidak pernah benar-benar memisahkan mereka.
Namun, cinta yang kembali tidak selalu datang dengan jawaban.
Kadang, ia datang membawa pertanyaan yang sama.
Tentang perasaan yang tak pernah selesai.
Tentang luka yang belum sembuh.
Dan tentang dua hati yang masih berdiri di tempat yang sama, tetapi tak pernah benar-benar tahu bagaimana cara saling mendekat.
Karena mungkin...
Tidak semua orang datang untuk pertama kalinya.
Ada yang datang kembali.
Dan mungkin, bagi sebagian hati, cinta memang tidak tumbuh pada musim pertama.
Melainkan...
pada musim yang kedua. 🌷
Tutti i diritti riservati